Ramadan Warna Warni

Ramadan.

Jadi teringat satu cerita beberapa tahun lalu…

 

Agak patah sih rasanya. Aku menangis diam-diam di dalam bus setelah percakapan siang itu dengan salah seorang teman dekatku. Ya, dia dekat, dan sekedar teman. Tapi ada banyak yang aku kagumi dari sosoknya. Laki-laki cerdas, act of service, religious, dan dewasa di banyak hal, terutama komunikasi. Diskusi sama dia tuh bisa di hampir segala sisi. Pengetahuan dia luas dan bikin aku merasa didengarkan. Jelas sekali dia dibesarkan di lingkungan positif. 

Dia adalah orang yang selalu aware ketika emosi ku bercampur aduk. 

“Kenapaa? Mood kamu lagi kurang bagus?”

“Kamu minta tolong ke aku lah, jangan apa-apa sendiri. Kalo kamu kenapa-kenapa gimana? Kamu tu bukan cewe independen! Aku akan selalu available kalo itu kamu.”

“Ga. Aku ga kan sibuk kalo kamu butuh. Aku akan luangin waktu untuk itu.”

“Maafin aku ya, aku jadi merasa ga guna ga bisa bantuin kamu kali ini.”

Mungkin kalimat-kalimat ini normalnya akan bikin hati perempuan luluh. Tapi bagiku ini hanya perhatian kecil dari seorang teman dekat.

Kita jadi teman dekat setelah banyak hal yang kita kerjakan bersama, dan setelah dia bilang “Ini aneh, tapi aku merasa kita adalah teman.”

Haha.

Ya, kadang ga semua orang yang kita kenal bisa menjadi teman. Dan apa yang dia deklarasikan mungkin agak ‘lucu’, tapi cukup normal di dunia yang aku jalani saat ini. Dunia yang ga bisa selalu kupercayai.

Dia jadi satu-satunya orang di kota ini yang aku ga ragu sama sekali untuk bercerita.

Mengaguminya sebenarnya tidak mudah. Maksudku, penuh tantangan di logika dan hatiku sendiri. Aku sadar bahwa ada banyak pertimbangan untuk memilih orang terdekat, pasangan hidup misalnya. Tapi dia, aku rasa, cukup sekedar untuk ku kagumi. Tidak lebih. Kagum, bukan berarti suka kan. Ada satu hal yang sulit aku terima dan jadi pertimbangan besar bahkan untuk jatuh cinta ke dia. Sebab itu lah, dari awal aku memantapkan untuk tidak menaruh hati atau memberi sinyal apapun. Dan aku juga jelas memberi boundaries bahwa kita hanya akan jadi teman dekat selamanya.

So…

Di siang itu, kita terlibat proyek yang sama, dimana aku memerlukan data dari dia sebagai narasumber. Aku menunggu dia dan temanku lainnya, Aermi, di ruang buku. Cuaca agak dingin. Waktu agak sedikit lebih ketat karena tiba-tiba Aermi mengganti narasumber yang seharusnya seorang junior lain, bukan teman dekatku di hari itu.

“Heyyy, gimana kabar?” dia masuk bersama Aermi, berjalan ke arahku dan fist bump, seperti biasanya.

“Baik haha. Ketemu di sini ya kita” sahutku. Udah lama ga ngobrol sama dia karena kita sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Dan… ya. Di tengah projek itu, Aermi bilang bahwa data ini perlu direkam secara visual. Di sela-sela itu, Aermi bolak balik ruangan untuk persiapan bagiannya. Sambil menunggu Aermi, aku dan laki-laki itu ngobrol. Ya layaknya teman dekat. Kita berbicara tentang malam lailatul qadar dan surah-surah di Al-Quran. Kita memang bisa nyambung berbicara hal apa saja, kadang random parah. 

“Wait, kayaknya aku tahu ayat mana yang kamu maksud. Soalnya aku pernah letak itu di instastory!” aku tertawa sambil ngecek archive story ku di instagram.

“Al-inshirah. Aku selalu inget ayat ini. Indeed, with hardship comes ease,” katanya.

“Yaaa! There’s a sunshine behind that rain, there’s a good time behind that pain! Ini relate banget sih dalam banyak aspek kehidupan.”

“Banget. Kalo aku down, aku selalu inget ini.”

“Kalo aku, suka banget sama ar-Rahman,” sambil melafalkan bagian yang selalu diulang berkali-kali dalam surah itu

“Ohh iyaa, aku tahuu!” dia antusias.

“Sama satu lagi sih, kalo lagi seret duit atau butuh kerjaan, aku baca al-Waqiah abis solat dhuhah. Pernah denger ga sih cara ini tuh? Ayat ini bikin rejeki ngalir deras tau. Approved loh! Udah berapa kali aku coba hahaha.” 

“Oh iyaa??” kita tertawa.

“Emang setiap ayat di Al-Quran tuh ada manfaat masing-masing setahuku.”

“Iya, bener banget. Al-Mukminun tuh bikin tenang, sama al-Furqon juga bagus tuh.”

“Widihh, al-Furqon. Ayat minta pendamping hidup tuh!” sahutku sambil disambut gelak tawa nya.

“Loh emang iyaa? Hahah asli baru tahu.”

“Iyaa, kalo ga salah ayat 74 seingetku haha.”

Aermi tiba-tiba kembali ke ruangan. Dan semua kembali fokus bekerja.

 

**

“Reliza, sorry banget ya. Waktu itu aku pernah janji mau dengerin kamu. Tapi belum sempat. Bukan ngacangin loh ya.”

“Iya nih, sibuk mulu ya kita haha. Soal itu.. duh gimana ya. Even aku sulit bilang ke si Grace (sahabat dan temen flat aku). Soalnya dia pasti bakal ngeledekin aku terus-terusan. Tapi aku tu mau cerita woy! Lagian kamu tahu kan aku tuh sulit banget curhat ke orang lain. Susah buat aku tu percaya sama orang. Mana kadang malu mau cerita hmm.”

“Haha, iyaaa iyaaa tauuu. Yaudahh nih cerita aja broo. Emang cerita apa?”

“Sebelum itu yaah, aku tu sebel si Grace ini lagi heboh banget jodoh-jodohin aku ke semua orang. Terbaru nih, sama ponakannya bu Una. Ya, sebenernya fine sih. Ga gimana-gimana. Kayak bercanda tapi serius. Eh gimana sih? Haha. Dia sih ngejodohin mulu. Kesannya tuh kayak aku ga bisa milih sendiri. Kan malu yak. Emangnya gue ga laku? Banyak kali yang suka sama gue HAHAHA.”

“Hahaha! Emang dasar yaa lu! Ehhh tapi serius ya, tahun lalu aku digituin juga sama temen-temen aku. Ga nyaman banget sih emang dijodoh-jodohin tuh.”

“Ya kaaan.. Makanya."

"Iyaa. Jadi gimanaa? Ceritain dong."

"Oke deh. Jadi ini yang aku mau ceritain beberapa waktu lalu. Dengerin yaa..”

Aku dan temen deketku itu, ngobrol panjang di dekat tangga, tempat orang lalu lalang. Sempat aku lihat salah satu rekan ku, Ayu, melintas dan senyum ke arah ku.

“Masa yaaa, aku lagi lunch kan. Tiba-tiba ada cowo confess ke aku!! Kan hampir keselek ya jadinya!”

“Hahhh?? Weh siapaa? Gimana nih ceritanyaa? Menarik nih hahaha.”

“Ada lah pokoknya! Aku tu literally lagi makan, terus dia tiba-tiba dateng dan confess. Gila ga tuh! Padahal nih ya, pernah ngobrol dua kali doang. Chat-chat an juga ga pernah. Setiba-tiba itu.”

“Dia confess tuh tanpa basa basi?”

“Yaaa ada lah dikit, kayak, eh Reliza, gimana kabar?! Gitu gitu lah. Ga lama abis itu, to the point

"Junior?"

"Bukan! Senior.. tapi aku gabakal bilang ya."

Wait, setahu aku yang belum married tuhh..” dia mikir sambil menyebutkan beberapa nama.

“Sstt, berisik! Gausah tebak-tebakan. Aku ga bakal bilang!!”

“Abis itu kamu bilang kalo kamu ga suka??”

“Engga dong..”

“Lah terus?? Jadian apa gimanaa?”

“Mana daaa! Ga sama siapa-siapa aku sekarang wey. Aku bilang.. well, I like you.. as a colleague. Gitu”

“Ohhh.. ga nyakitin lah ya.”

You know, I’m cool.” dia tepuk tangan sambil tertawa.

Niceee, you’re handling it well.

Sure, bukan my first rejection soalnya! Hahaha.”

Kita tertawa terbahak-bahak. Vibing banget.

“Eh tapi kamu gapapa kah, Rel? Selama di sini, kamu merasa nyaman gak?”

“Nyaman nyaman aja sih. Lagian aku sama dia jarang juga papasan di kantor gitu. Beda department.”

“Ohh, yang penting itu sih. Asalkan kamu nyaman ajaa yaa.”

“Aman kok.”

Dan lagi asik ngobrol bahas itu...

Coincidentally, laki-laki yang sedang kita bicarakan itu tiba-tiba muncul dari tangga bawah.

“Reliza, how are you?” KAGET CUYYY.

“Oh hai!” aku yang lagi tertawa langsung mengatur napas, bisa-bisanya. KENAPA MUNCUL WOYY.

Di tangan laki-laki itu, dia membawa bouquet pink dengan setangkai bunga mawar putih. Dia berlalu masuk ke ruangan staf. Syukurnya sih, di kantor kita ga satu ruangan. Tapi kenapa dia ke sana ya. Itu bukan ruangan dia kan. Hmm..

“Eh, masih ada yang mau diobrolin ga?” aku beralih ke teman dekatku.

“Ohh.. ada dikit.”

Btw, kamu bentar lagi selesai kontrak kan. Kapan?” sahutku.

“Mei sih. Setelah itu aku bakalan sibuk banget.”

“Hah? Ya ampun dua bulan lagi ya.”

“Nah iyaa, waktu berjalan begitu cepat memang.”

“Kemana rencana?”

“Yah, aku lagi apply sih ini, mau lanjut studi ke luar negeri. Bismillah ya.”

Nice. Aku yakin kok kamu pasti dapet sesuai yang kamu inginkan” aku tersenyum, memberi support ke dia.

Thanks ya! Btw beberapa tahun terakhir aku merasa bersyukur banget. Terutama pas pindah di kantor ini. Aku banyak banget ketemu orang baru. Cerita hidupku juga jadi lebih seru.”

Glad to know! Ikut seneng dengernya.”

“Dan di sini juga.. hmm, untuk pertama kali aku akhirnya mulai hubungan baru..”

“Iya sih itu penting… eh wait, apa? hubungan?? Maksudnya kamu lagi ngejalin hubungan?" aku agak terkejut.

"Iyaa.." dia malu-malu, sambil menyisir rambutnya yang agak panjang itu dengan jari.

 "Aku kenal sama orangnyaa?” aku setengah berbisik.

“Hehe iyaa, kamu kenal. Tentu kamu kenal.”

“Siapaa??”

“Tebak.”

Wait, dulu aku inget pas kita ngobrol soal crush, aku pernah tebak kamu sama Nova, tapi kamu bilang bukan. Dan aku percaya itu sih. Jadi… mungkin… hmm … "

Dia mengangkat alisnya..

"Ika?” lanjutku.

“Yes” dia tersenyum dan mengangguk.

“Udah kuduga.” aku tertawa kecil.

“Emang obvious kah?”

“Engga sih. Feeling.”

“Haha, gituu.. make sense

“Sejak kapan??”

“Jujur ya, aku tuh suka dia dari beberapa tahun lalu. Kita pernah kerja bareng di kantor yang sama. Setelah itu, enam tahun kita terpisah dan ga sengaja banget ketemu di sini lagi. Dan yah, aku ternyata masih suka sama dia. Sekarang hubungan kita udah berjalan sekitar 3 atau 4 bulan.”

“Hahh, well, oke, aku baru tauu..”

Please. Jangan bilang siapa-siapa ya.”

“Okee” aku pun membalas dengan tersenyum dan mengangguk, persis yang dia lakukan sebelumnya.

Jauh, jauh banget di dalam hati.

Percakapan itu membuatku sedikit…

Terkejut.

Tapi tidak sampai membuat sakit hati.

Rasanya biasa aja, cuma terkejut. Tapi di momen dia ngasih tahu hal itu, ada detik yang terhenti. Ada napas yang agak tertahan. 

Entah apa sebabnya. Aku sekedar kagum dengan teman dekatku ini kok.

Sekedar ya..

Aku senang dia akhirnya menemukan cinta pertamanya. Dia seorang yang pendiam, tapi punya hati jernih dan tulus. Sama sepertiku, dia bisa berteman dengan siapa saja, namun sulit untuk jatuh cinta. Semakin kenal dia, aku menyadari bahwa dia pribadi yang hangat. Tidak sedingin saat pertama kali aku dan dia bertemu. 

Dan Ika, adalah perempuan baik. Aku kenal dekat dengan dia, namun tidak sedekat dengan teman dekatku itu. Keduanya sama-sama baik. Cocok sekali.

Setelah percakapan itu, aku masuk ke ruanganku.

Di meja Ayu, aku lihat bouquet bunga yang dibawa oleh laki-laki yang confess ke aku itu. WHAT??? Aku kaget LOL. 

Aku belum selesai dengan perasaan terkejutku soal hubungan teman dekatku, tapi di depan mataku ada drama lain yang aku ga nyangka bakal terjadi. Maksudnya gimana inii. Nebar jaring boskuh??

Ayu tidak berada di mejanya. Aku mengambil pouch dari tasku lalu beranjak ke toilet. Merapihkan pikiran dan wajahku di cermin. Dua hal yang bikin aku shocked.

Lucu tapi ga lucu.

Aku kembali ke ruangan dan bouquet mawar putih di meja Ayu sudah tidak ada. Entah kenapa mataku tertuju pada tempat sampah dan kulihat sebuah bouquet tertancap di dalamnya. Ayu ternyata di sana dan berjalan ke arah pintu menggenggam headphone nya.

“Yu! Tadi aku liat ada bouquet loh di meja kamu! Cieee”

“Iyaa, tapi dari seseorang yang.. huft entahlah!” dia memasang headphonenya.

“Yu! Kamu buang??”

“Enggak kok!” dia berjalan ke arah pintu.

“Aku tau dari siapa!” dia berbalik ke arahku dan terbelalak.

“Relllll!”

“Dah sana, ntar kita ngobrol yaa” aku setengah berbisik sambil melihat keadaan ruangan yang agak ramai.


**

Knock knock.

“Reliza ada?”

Teman dekatku menghampiri ku ke ruangan.

“Rel, kita harus ulangi proses rekaman proyek.” 

“Hah. Kenapa? Jam berapa rencana?” aku melihat jam ku, mepet dengan online meeting ku sore itu.

“Soalnya hasilnya noisy banget. Ga kedengeran apa-apa. Kata Aermi data nya jadi ga kecatet. Kamu lagi sibuk ya?” aku menghela napas. Hari yang padat, batinku.

“Hm, gimana ya? Terus solusinya apa? Microphone ada?”

“Iya ini si Aermi lagi usaha. Kalo kamu ga bisa hari ini, aku coba diskusiin ke Aermi deh ntar.”

“Tapi.. hari ini harus disubmit kan. Yaudah coba kamu ke Aermi dulu ya. Aku lagi ada supervisi ini.”

"Oke" dia berlalu.

Dalam ruangan, aku berpikir. Mencoba mengatur ulang schedule ku hari itu.

Online meeting jam 4, abis itu pulang kantor ke translator.. terus..

“Ehh, gapapa deh hari ini jam 3.10 ya. Kita cepet aja, yang penting dah tau konsep ya”.

Aku chat ke dia dan Aermi.

OMG, thank you so much, Relizaaaa” kata Aermi.

**

03.11 pm

“Rel, kita dah di ruang buku ya” pesan masuk dari Aermi.

Otw”.

Tunggu..

Aku..

Siap ga ya?

After all that happened. Aku harus ngobrol sama temen dekatku lagi. Gapapa sih, kan memang temen dekat.. 

Cuma belum siap aja kalo sekarang. Emosiku masih bergejolak. Aku sangat ingin menangis rasanya atas apa yang aku dengar hari ini. Kenapa ya, rasanya sedikit mengganjal di dada.

“Kita ulang ya, Rel” Aermi menyiapkan perangkat. Aku menghela napas dan tersenyum ke teman dekatku. Dia menatapku dan mengangguk pelan.

Sepanjang wawancara, aku cuma datar. Rasanya ingin buru-buru selesai. Kenapa ya, rasanya lebih berat dari sebelumnya.

Masih tak percaya sih..

tapi ikhlas kok..

InshaAllah.

**

Aku berada di lantai empat sehabis solat Asar. Ayu berjalan di lorong sambil mendengar musik di headphonenya. Wajahnya keliatan bete.

“Sini cerita! Di dalam aja ya, dingin soalnya” aku menarik tangannya menuju ke ruang kreasi.

“Relll, kamu liat apaa gimanaa? Ihh Rel, aku benci deh sama orang ituu” dia memasang muka jijik. Aku tertawa.

“I got you, Yu.” Aku dan Ayu memang cukup dekat. Dia sering cerita tentang dirinya, terutama soal asmara. Tapi aku belum terlalu terbuka ke dia dalam hal apapun. Kecuali kalo dia yang tanya dan aku merasa nyaman untuk memberikan jawaban. Oke, guys. Mungkin dalam pertemanan terdengar kurang adil. Tapi aku sangat berhati-hati menaruh trust dengan seseorang sampai aku benar-benar yakin, meskipun sudah kenal lama. I’ve got trust issue somehow. Dan memang tidak semua sisi bisa kita share dengan orang lain. That is a lesson that I’ve ever got in my life. Anyways..

“Kamu sama si …. (temen deketku) notice kah? Kalian di deket tangga kan tadi.”

“Aku noticed sih. Tapi aku ga yakin kalo dia haha. You know lah, cowo bukan makhluk multitasking hahaa.”

“Iya sih yaa.. ini parah sih Rel. Waduh, aku malu! Aku ga suka sama dia tuh!”

“Gimanaa ceritanya? Kalian deket apa gimana?”

“Enggak sama sekali! Tapi beberapa kali kita ketemu di gym dan main pingpong bareng. Tapi sumpah ya Rel, aku tuh sama sekali ga da maksud apa-apa sama dia.”

“Udah lama kenal?”

“Kita tuh sering main dari sebelum kamu gabung di kantor ini. Tapi aku nganggepnya biasa aja. Aku tau lagian dia tuh dah nikah.”

“Hah??? Gimana maksudnya?”

I mean he was married with two kids. But I didn’t know that he’s divorced!!

“Oalah dudaaaaa…” aku ketawa dalam hati. Ngakak banget karena baru tau fakta-fakta ini. Bukan buruk yaa maksudnya. Aku memang ga kenal dia sejauh itu. Pas dia confess itu bikin aku bingung parah karena aku ga tahu banyak soal dia. Lucunya lagi, aku jadi tau justru karena kejadian dimana dia chasing temen ku ini. SO INTERESTING. Allah suka gitu ya, kejutan kecilnya tuh bener-bener berwarna.

“Rel, dia tuh pernah tiba-tiba call aku. Dia sering ngajak main pingpong bareng. Pernah juga nawarin aku buat nganterin pulang. Aku nolak dia kecuali main pingpong ya. Karena sometimes aku ga enak dan ga tahu alesan buat nolak. Terus, aku pernah liat dia ngobrol sama junior, junior itu kayak nanya ke dia sambil liat ke aku. Dan cowo itu ngangguk. Ekspresi si junior itu kayak nutup mulut dan kaget. Besoknya, si junior datengin aku yang lagi main pingpong sama si, huft, sebut aja si ono lah yaa! Nah dia tanya, kalian dating kah? Sumpah yaa, ihhh!!! Aku langsung bilang, apaa maksudmu? Enggak lah! Dan you know Rel, aku yakin banget si junior itu tanya hal yang sama ke si ono dan si ono ngangguk huft!” aku tersenyum geli dan kaget, dalam hati ku berpikir, ini laki-laki ga sedarderdor itu loh sama Ayu. Tapi sama aku literally straight to the point. Approach nya beda. Apa karena Ayu gen Z dan aku millennial ya, jadi dia punya pertimbangan itu. 

Atau mungkin yang kata sering temen-temenku bilang, "Rel, lu tu punya aura unreachable, hidup lu tu kalo diikutin kayak stable dan seru. Tapi ga semua orang bisa masuk ke dunia lu yang menyenangkan itu. Kayak butuh effort serius buat kenal lu lebih jauh! Iya lu fun, friendly, humble tapi tetep kayak mikir gue bisa ga ya jadi siapanya si Rel ini." I don’t know lah ya. Tapi aku bersyukur sih ga dichase se annoying itu sama cowo yang aku ga suka.

“Dan Rel… tiap kali dia liat aku, dia tuh punya tatapan yang bikin aku ga nyaman!” Asli. Dalam hati, wah ini relate sih, aku juga ditatap dia begitu soalnya. Tapi aku easily to ignore it karena yaa.. KEK MANA AKU KAN GA BISA CONTROL ORANG YA. Namanya juga orang tertarik. Paling aku buru-buru nyelesain conversation.

“Terus gimanaa soal hari ini? Kok bisa dia kasih kamu bunga?”

“Okee.. " dia menarik napas panjang.

"Gini yaa. Kemarin itu aku ga sengaja banget papasan sama dia, males nyaaa. Dalam hati aku berdoa biar dia ga notice, tapi kena ajaa aku, Rel. Akhirnya dia nyapa aku. Ya terpaksa lah ya aku berhenti. Dia ngucapin selamat hari perempuan internasional gitu lah. Terus dia nyuruh aku nunggu sambil kayak merogoh sakunya. Lama banget rasanya tuh, aku ga nyaman soalnya kan. Dia tiba-tiba kasih aku lollipop. Aku cuma bilang makasih dan buru-buru ninggalin dia.” lanjutnya.

“Ohhh.. terus teruss?”

“Hari ini, kamu liat kan aku tadi di lorong? Pas kamu ngobrol sama ….. (temen deket), aku tuh jalan ke ruang 4A. Pas lagi di sana, dia call aku. Aku jawab tegas banget bilang kalo aku lagi sibuk. Tapi dia insists tanya aku lagi dimana. Mau ga mau aku jawab lagi di 4A.”

And you know what, Rel!! Tiba-tiba ada yang ngetuk pintu. Aku dah feeling itu dia. Seisi ruangan pada nyadar ada yang ngetuk, soalnya aku lagi presentasi. Pas aku buka, dia cuma ngintip dan nutup pintunya. Abis itu, dia ketuk lagi. Aku tahu itu isyarat buat datengin dia karena dia ga akan masuk ke ruangan. Aku ijin sebentar dan betapa terkejutnya aku pas liat dia tuh nyodorin bouquet. Ya ampun. Buru-buru aku bilang makasih dan jalan cepet ke ruangan aku buat naruh itu bouquet. Ga mungkin aku bawa ke 4A kan. Kamu liat aku gaa pas aku bawa bouquetnya?”

“Enggaaa.”

“Aku ngelewatin tangga itu dan ternyata ada salah satu junior yang liat aku nerima bunga dari si ono dan si junior ini tadi masuk ke 4A. Pas balik ke ruangan itu, semua pada nyorakin aku Rel. Nanya-nanyain ada hubungan apa aku sama si bapak-bapak itu. Repot banget aku jawabin mereka.”

“Hahahah kamu bilang apa?” 

“Aku bilang. Heh, ini hari perempuan internasional ya. Lagipula beliau ngasih nya ga ke aku doang, tapi semua senior. Dan lu tau kan Rel, mereka ga percaya! Soalnya mereka ga liat langsung. Aku bilang lagi, aku banyak kok dapet bouquet dan kado, ga dari beliau doang. Tapi mereka tetep cia ciein akuu Rel huhuhu.”

“Duuuh ga enak banget yaa itu pasti. Ada-ada ajaa deh.”

“Huum. Tuh dia!” Ayu menunjuk ke arah jendela. Laki-laki yang sedang membuat Ayu bete hari itu tengah berjalan keluar gerbang menuju mobilnya.

Huft. Hari dimana dia nawarin aku buat nganterin pulang, aku jawabnya cuma ketawa karena aku pikir itu bercanda. Besoknya, dia tanya kenapa aku ga ke mobil dia, padahal dia dah nungguin. Geli banget Rel, kapan sih aku ngeiyain. Aneh banget deh!”

“Iyaaa aneh banget.." aku menatap laki-laki itu berlalu. Tatapanku setengah kosong.

"Eh Yu, btw bunga nya kamu buang?”

"Engga. Kamu mau?"

"Eh engga." Gila. Meskipun aku suka banget sama mawar, tapi aku ga mau ambil bunga yang seharusnya bukan untukku dan dari cowo yang aku ga suka.

"Aku cuma liat tadi ada bouquet pink persis di tempat sampah."

"Oh, engga kok. Itu mungkin bunga yang lain. Aku letak di cloackroom. Gatau mau kuapakan. Paling aku kasih ke ibu-ibu di jalanan ntar pas pulang."

"Btw mawar putih artinya..." aku setengah tertawa meledek Ayu.

"Stop! Aku ga mau tau, ga mau denger." Ayu menutup telinganya.

".....berharap, Yu. Haha!"

"Iww!" Ayu kegelian. Aku tertawa melihat tingkahnya.

Dalam hatiku, ya Allah makasih ya.

Allah selalu bikin aku ga jatuh hati pada orang-orang demikian. Demikian lah ya pokoknya hehe.

**

Sore.

Bus tidak terlalu ramai. Namun aku dan Grace duduk terpisah karena tempat duduk terbatas. Aku memutar lagu di Youtube, bukan lagu sedih kok, lagunya Adhitia Sofyan berjudul Sesuatu di Jogja. 

Entah kenapa pelan-pelan air mata ku mengalir. Kuhapus, tumpah lagi. 

Kuhapus lagi. 

Makin deres. 

Akhirnya ya, aku bersyukur bisa meluapkan perasaan ku yang penuh hari itu. Diam-diam sambil menatap kosong ke depan, aku mengafirmasi diriku bahwa aku baik-baik saja.

After all difficulties, come ease” batinku, menenangkan diri dengan surah al-Inshirah. 

Aku menangis bukan karena teman dekat yang kukagumi itu jadian sama orang ya. 

Ga denial kok.

Beneran bukan. 

Lebih ke refleksi diri atas beberapa tahun belakangan. Ujian hati ku tuh lengkap. Bukan kebanggaan ya. Tapi banyak banget belajarnya, ber chapter-chapter

Dari yang diputusin, diselingkuhin, ditinggal meninggal, ditinggal menikah, dighosting, direbut abis tuh ditinggal, sampe yang beda agama lah, dideketin sama yang ternyata suami orang lah.

Macem-macem banget.

Drama.

Sekarang, aku cuma note seseorang sebagai orang yang kukagumi. Tapi pas dia menambatkan hatinya, kenapa kaget campur sesak ya.

Kenapa aku yang jadi serapuh ini.

Ya Allah, kenapa ya.. 

Allah..

Air mataku mengalir terus-terusan tanpa isakan.

Aku berusaha menghapus energi-energi negatif. 

Ga. Aku ga desperate kok.

Aku cuma kangen.

Dulu pernah dicintai dan mencintai utuh.

Dan sekarang aku ga deket sama siapa-siapa.

Yang confess ke aku, aku ga suka. Dan bukan orang yang baik juga.

Di hidupku, aku merasakan cinta itu nyata. 

Real banget, aku rindu perasaan itu. Bahkan aku belum jatuh cinta lagi selama hampir setahun ini.


Mengagumi tuh mudah ya; I like him because.. easily to mention his strengths.

tapi kalau mencintai; I love him even he....

udah tau buruk-buruknya, tapi tetap memilih untuk bareng sama dia.

Dan aku memang belum mencintai lagi.

Ga sepi sih.

Ga juga tenang atau kusut.

Aneh aja rasanya ketika keinginan untuk mencintai dan dicintai itu muncul lagi.


Ada orang yang datang ke hidup kita memberikan kita pelajaran. Ada yang datang untuk sekedar dikagumi tanpa dimiliki. Ada yang datang, pergi, lalu kembali. Ada juga yang datang sekali dan memilih untuk menetap selamanya.

Cinta itu misteri. But true love exists.

Percaya deh..

Bentar lagi dia nyampe kok, Rel.


"Iftar apaa ntar? Ga sempet masak nih kayaknya. Aku juga belum nyampe rumah," pesan masuk dari teman flat ku, Yaya.

Aku menghela napas dan melihat jam. Udah mau buka ternyata. Segera kutelpon dia.

"Yayaaa..ntar aku mampir beli lauk yaaa. Nasi di rumah masih ada kok kata Grace." 

"Yuhuu. Oke deh. Sampe ketemu yaa."

Tbh, menangis tadi cukup bikin aku lega. 

Aku mulai tersadar dari pikiran-pikiran ku dan menoleh ke arah Grace setibanya kita di bus stop.

"Let's go, Grace" ia mengangguk.

Dan kita menuju ke flat yang penuh kehangatan di bulan ramadan itu.

Aku memandang langit.

Bukan cuma perasaanku ternyata, langit sore itu juga aneh; seperti terbelah tiga. Sebelah kanan biru terang, di atasku kelabu, di sebelah kiri warna jingga.

Seaneh hal yang baru ku tahu hari ini, benar-benar penuh warna.


Jadi, begitulah kisah ramadan ku yang bergejolak itu.

Sekian.

Jangan lupa jatuh cinta.

Jangan lupa kalo kamu pantes dapet cinta yang kamu idamkan.

Allah bilang sebentar lagi kok.

Semangat ya.. true love exists.

 

Komentar